Simak Beberapa Kebiasaan Ibu agar Mencegah Obesitas Anak!

Obesitas atau kelebihan berat badan yang selama ini menjangkit orang-orang dewasa juga bisa terjadi pada anak-anak. Kelebihan berat badan terjadi jika berat badan anak terlampau jauh dari berat badan ideal yang dihitung dengan cara membandingkan berat badan dengan tinggi badan atau dengan hitungan BMI (body mass index) atau Indeks Masa Tubuh (IMT). Keadaan ini dapat meningkatkan kemungkinan terjangkit penyakit komplikasi kronis dan mengganggu psikologis anak-anak yang menyebabkan mereka minder  terhadap lingkungan dan tidak percaya diri karena obesitas tersebut, sulit melakukan kegiatan sehari-hari dengan cekatan karena mudah lelah, dan lain sebagainya.

Terlebih pada anak-anak, berat badan yang berlebihan dapat mengganggu keaktifan dan aktivitas harian mereka yang membutuhkan banyak energi. Anak-anak dapat menjadi cepat lelah, tidak bersemangat dan sesak napas karena kelebihan lemak yang menekan organ pernapasan. Obesitas pada anak-anak memiliki risiko yang lebih tinggi dibanding dengan obesitas pada orang dewasa terhadap penyakit-penyakit komplikasi seperti diabetes, penyakit hati dan lain-lain. Oleh karena itu, obesitas pada anak bukan lah penyakit ringan dan pencegahan serta pengobatannya penting untuk para orang tua ketahui.

Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 40% orang dewasa dan 20% anak-anak mengalami obesitas. Hal itu menimbulkan kekhawatiran sekaligus meningkatkan kesadaran orang tua untuk lebih peduli terhadap langkah-langkah preventif agar angka tersebut tidak makin bertambah kedepannya. Hal itu dapat dilakukan dengan kerja sama yang baik antara anak dan orang tuanya. Penelitian menyebutkan bahwa seorang ibu yang menjalankan setidaknya lima kebiasaan sehat dibawah ini, dapat mencegah obesitas pada anak sekitar 75%. Apa sajakah kebiasaan tersebut?

  1. Lakukan setidaknya 150 menit kegiatan fisik yang penuh semangat setiap minggunya.

Untuk ibu yang memiliki kebiasaan merokok, sebaiknya mulai berhenti merokok.

  • Konsumsi lebih banyak makanan sehat, seperti sayur-sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian utuh seperti gandum, beras, quinoa, sorgum, lemak tak jenuh, omega-3.
  • Kurangi konsumsi daging merah dan daging yang sudah diproses seperti sosis atau hot dog, minuman dengan pemanis buatan, lemak trans karena dapat meningkatkan kolesterol jahat, dan sodium.

Lalu apakah hubungannya antara kebiasaan hidup sehat ibu dengan obesitas pada anak? Jika seorang ibu mencontohkan kebiasaan hidup sehat, niscaya anak akan melihat dan mengikuti. Dengan melakukan beberapa kebiasaan diatas secara bersama-sama, keduanya akan melihat keuntungan yang bisa didapat. Seorang ibu yang mengonsumsi makanan sehat, melakukan olahraga dan tidak merokok dapat mengurangi risiko obesitas dari 25% hingga 40%. Ditambah jika berat badan sudah ideal maka akan mengurangi lagi risiko obesitas hingga 75%.

Sangat menarik dan mengejutkan bahwa kebiasaan ibu memiliki efek yang lebih besar dibanding dengan kebiasaan anak itu sendiri dalam mencegah obsesitas pada anak. Jadi, mulai sekarang, biasakan memotivasi anak dan memberikan contoh hidup sehat kepada mereka.

Read More

Hal yang Harus Diwaspadai Seputar Cedera Olahraga Anak-Anak

Kecelakaan saat melakukan aktivitas fisik seperti olahraga kerap menyebabkan anak-anak mengalami cedera yang serius hingga harus dibawa ke UGD. Biasanya, cedera olahraga yang dialami adalah ligamen lutut yang robek, pergelangan kaki terkilir, dan kepala yang terbentur.

Kegiatan olahraga dan bela diri merupakan aktivitas fisik yang sangat bermanfaat untuk kesehatan dan tumbuh kembang anak. Namun, apakah olahraga berisiko besar terhadap terjadinya cedera? Apa yang dapat Anda lakukan untuk membuat anak-anak tetap aman?

Cedera Olahraga pada Anak-Anak

Masa kanak-kanak adalah periode bermain yang banyak diisi dengan aktivitas fisik untuk pengembangan motorik. Tidak heran jika olahraga, apa pun jenisnya, menjadi aktivitas yang tidak boleh dilewatkan anak. Sayangnya, kegiatan ini ternyata kerap menjadi penyebab cedera olahraga pada anak, sebut saja sepak bola, basket, dan bisbol.

Saat mengalami cedera olahraga, bagian tubuh anak yang paling sering mengalami trauma adalah pergelangan kaki, kepala, jari, lutut, dan wajah. Dari semua bagian itu, keluhan terkilir adalah yang paling sering didiagnosis pada anak-anak. Selanjutnya, cedera olahraga lain yang juga sering terjadi adalah patah tulang, memar, tergores, serta gegar otak.

Untuk mengatasi hal tersebut, sebagai orangtua Anda perlu memperhatikan beberapa hal penting seputar persiapan olahraga dan aktivitas fisik anak lainnya. Mulai dari pemeriksaan kesehatan fisik, melakukan pemanasan dan peregangan, memberikan asupan nutrisi dan suplemen, hingga mengajarkan kehati-hatian dan kesadaran dalam bergerak.


Gegar Otak
Dari semua cedera olahraga yang terjadi pada anak-anak, gegar otak menjadi salah satu yang paling dikhawatirkan. Sebab, pukulan atau benturan yang terjadi pada kepala dapat memengaruhi cara kerja otaknya. Meskipun begitu, Anda juga tidak perlu panik sebab gegar otak termasuk dalam jenis cedera otak traumatis yang paling umum terjadi.

Kasus gegar otak pada anak kerap terjadi pada mereka yang aktif dalam olahraga sepak bola, basket, dan beberapa latihan bela diri. Kebanyakan dari mereka memiliki rentang usia antara 12 dan 15 tahun. Bagi anak yang baru saja mengalami pukulan atau benturan keras di kepala, pahami gejala-gejala gegar otak yang mungkin terjadi, di antaranya:

  • Sakit kepala
  • Kebingungan
  • Mual/muntah
  • Pusing
  • Bicara cadel
  • Kebas/mati rasa
  • Hilangnya keseimbangan
  • Kehilangan ingatan
  • Suasana hati berubah


Jika anak Anda mengalami gejala-gejala ini, segeralah mencari bantuan medis untuk mendapatkan penanganan tepat dan cepat. Gegar otak adalah kondisi cedera yang serius. Diagnosis dini, pengobatan, dan rehabilitasi sangat penting untuk memulihkan anak secara menyeluruh.

Meningkatkan Kesadaran Akan Cedera Kepala
Sebelum gegar otak terjadi, ada baiknya Anda melakukan tindakan pencegahan dengan meningkatkan kesadaran mengenai cedera kepala itu sendiri. Dengan kata lain, pengobatan untuk gegar otak sudah dimulai dengan meningkatkan kesadaran pada anak dan Anda sendiri selaku orangtua. Seorang anak yang mengalami cedera kepala biasanya hanya akan merasa pusing. Namun, orang lain di sekitarnya bisa lebih peka terhadap perubahan tingkah laku. Misalnya saat kemampuan anak tampak menurun dengan kondisi tubuh yang terlihat baik.

Waspadai Cedera Berulang
Sudah sewajarnya anak-anak memiliki cita-cita tinggi untuk menjadi seorang atlet andalan dan masuk dalam tim utama di sekolahnya. Namun, jika ia terlalu memaksakan latihan dengan kondisi tubuh yang cedera, tentu hal ini akan sangat membahayakan. Apalagi jika ia hanya fokus pada gerakan dan aktivitas yang berulang di mana tubuhnya akan melakukan gerakan yang sama dan dengan risiko cedera yang sama. Itulah sebabnya, Anda perlu memberikannya pilihan dalam menghindari cedera yang berulang dengan cara berikut:

  • Ajak anak untuk mengikuti beragam pilihan olahraga yang berbeda. Misalnya dengan mengikuti komuniktas sepak bola, bola basket, atau bahkan karate.
  • Ajarkan anak untuk menggunakan otot-otot dengan cara yang berbeda, tidak hanya untuk gerakan berulang.
  • Jika anak Anda memainkan satu olahraga sepanjang tahun, perhatikan waktu-waktu penting untuk mengistirahatkan kerja otot pada gerakan-gerakan yang mendominasi permainan.

Berolahraga memang penting untuk dilakukan oleh anak-anak. Namun, menghindari cedera dan kecelakaan lain juga harus diutamakan untuk menjaga anak tetap dalam kondisi yang sehat dan optimal. Pastikan untuk membawa anak pada komunitas atau sekolah olahraga yang tepat dengan pelatih yang akan mengajarkannya cara mengoptimalkan sebuah latihan.

Read More