Mengenal Obat-obatan yang Biasa Digunakan untuk Suntik Keloid

Suntik keloid dilakukan oleh dokter spesialis kulit.

Terjadinya luka, apalagi di bagian tubuh yang terbuka, kadang menimbulkan masalah baru di luar lukanya itu sendiri. Keloid misalnya, kemunculan bekas luka yang menonjol itu mungkin menjadi masalah besar bagi sebagian orang, meski bisa disembuhkan dengan berbagai prosedur termasuk suntik keloid.

Akan tetapi, kenyataan itu tak mengubah kenyataan yang lain bahwa banyak orang lebih takut dengan bekas luka ketimbang lukanya itu sendiri. Kondisi inilah yang mendorong dunia medis untuk terus menciptakan pelayanan terbaik untuk mengakomodir kebutuhan tersebut.

Suntik keloid contohnya. Prosedur ini lahir dari pembaharuan dari prosedur-prosedur sebelumnya yang dinilai tak lagi efisien. Pasalnya menyuntikkan “sesuatu” di bagian tubuh yang terdapat keloid, dinilai lebih aman, murah, dan tidak menyakitkan dibanding prosedur lain.

“Sesuatu” yang dimaksud di paragraf sebelumnya adalah obat. Dilansir dari laman SehatQ, ada berbagai macam obat yang biasa digunakan dalam prosedur suntik keloid, di antaranya:  

  • Kortikosteroid

Kortikosteroid adalah obat yang mengandung hormon steroid yang berguna untuk menambah hormon steroid dalam tubuh bila diperlukan, dan meredakan peradangan atau inflamasi, serta menekan kerja sistem kekebalan tubuh yang berlebihan.

Efek samping kortikosteroid sebagian besar terjadi karena konsumsi kortikosteroid oral. Namun, kortikosteroid topikal, hirup, dan injeksi, juga bisa menimbulkan efek samping tertentu. Munculnya efek samping tersebut dapat berbeda tergantung dengan kondisi masing-masing pasien. Konsumsi obat jangka panjang juga bisa menimbulkan kemungkinan efek samping.

  • Fluorourasil 

Obat yang juga dikenal dengan sebutan 5-FU atau f5U ini adalah obat dari analog pirimidina yang digunakan untuk perawatan kanker. Ada berbagai macam kanker yang bisa diobati dengan fluoraurasil. Obat ini juga dapat digunakan sebagai krim untuk mengatasi keratosis aktinik, karsinoma sel basal, dan kutil kulit. 

Ketika digunakan dengan injeksi, kebanyakan orang mengalami efek samping. Efek samping yang umum termasuk radang mulut, kehilangan nafsu makan, menurunnya jumlah sel darah, rambut rontok, dan radang kulit. Saat digunakan sebagai krim, iritasi pada bagian kuli yang teraplikasi biasanya terjadi. Sementara itu, penggunaan bentuk apa pun dalam kehamilan dapat membahayakan bayi.

  • Bleomycin

Sama seperti jenis sebelumnya, obat yang digunakan untuk suntik keloid ini juga sebenarnya merupakan obat antikanker. Malah secara lebih spesifik diketahui bahwa bleomycin merupakan obat yang digunakan untuk kemoterapi.

Bleomycin tersedia dalam bentuk suntikan, sehingga pemberian obat harus diberikan oleh dokter atau petugas medis atas instruksi dokter. Dokter juga akan memantau pernapasan, tekanan darah, dan fungsi ginjal selama bleomycin diberikan.

Alasannya, cukup banyak resiko atau efek samping yang bisa terjadi setelah penggunaan obat ini, mulai dari gatal-gatal, mual, rambut rontok, hingga nyeri dada dan sakit kepala berat.

  • Interferon

Interferon dalam bentuk obat bekerja dengan meningkatkan respon kekebalan tubuh dan menghambat pertumbuhan virus, bakteri, atau kanker. Pada dasarnya interferon terbagi lagi dalam 3 kelompok besar, yakni Alfa, Beta, dan Gamma. Masing-masing kelompok tersebut memiliki tipe obat dengan fungsi, merek dagang, dan dosis yang berbeda-beda.

Adapun interferon yang digunakan dalam prosedur suntik keloid adalah Interferon Alfa-2b. Jenis ini juga lazim digunakan untuk mengatasi condyloma acuminata (kutil kelamin), Leukemia sel berambut, Leukemia myeloid kronis, Hepatitis C kronis, Hepatitis B kronis aktif, melanoma, sarkoma Kaposi terkait AIDS, tumor karsinoid, limfoma folikular, dan multiple myeloma.

Efek samping dari penggunaan interferon berbeda-beda, tergantung jenis dan tipe obat. Efek samping yang dapat terjadi seperti sakit kepala; demam; dan nyeri otot.

  • Verapamil

Ini merupakan obat yang biasa digunakan untuk penyakit-penyakit kardiovaskular, seperti aritmia, angina, hingga tekanan darah tinggi. Verapamil bekerja dengan cara menghambat kalsium masuk ke sel-sel otot di pembuluh darah, sehingga otot pembuluh darah menjadi lebih rileks. Otot yang rileks akan membuat aliran darah lebih lancar, sehingga menurunkan tekanan darah dan meredakan keluhan angina.

Dalam perannya dalam prosedur suntik keloid, Verapamil bekerja sebagai pelebur saluran kalsium yang terhambat oleh sekresi molekul matriks ekstraseluler (misalnya, kolagen, GAG, fibronektin) dan meningkatkan fibrinase. Verapamil dapat bertindak sebagai modalitas alternatif yang efektif dalam pencegahan dan pengobatan bekas luka keloid dan hipertrofik.

Dosis verapamil diberikan sesuai usia, kondisi, dan respons tubuh pasien terhadap obat. Prosedur suntik keloid dengan verapamil mungkin akan menimbulkan efek samping bawaan obat, seperti sakit kepala, mual, hingga sembelit.

***

Di antara semua obat di atas, yang paling umum digunakan adalah kortikosteroid. Dalam menyembuhkan luka, kortikosteroid memiliki kemampuan untuk memutus ikatan antara serat-serat kolagen yang dihasilkan oleh jaringan parut.

Suatu riset mengungkapkan bahwa suntik keloid menggunakan kortikosteroid merek triamcinolone memberikan hasil yang optimal pada 50-100% kasus, dengan angka kekambuhan sekitar 9–50%. Untuk hasil yang lebih baik, terkadang triamcinolone dikombinasikan dengan obat lain untuk suntik keloid seperti 5-fluorouracil atau bleomycin.

Read More