Benarkah Bentuk Hidung Manusia Dipengaruhi oleh Iklim?

Seorang manusia terlahir dengan berbagai bentuk dan ciri yang melekat di tubuhnya. Ini biasa disebut sebagai ciri fisik seseorang. Bagian-bagian di wajah-lah yang paling mudah terlihat perbedaannya, mulai dari mata; mulut; kuping; maupun bentuk hidung manusia. Karena wajah adalah salah satu identitas terpenting seorang manusia, oleh karenanya mereka sangatlah identi.

Bentuk indera penciuman manusia tersebut, secara garis besar, terbagi ke dalam beberapa spesifikasi berdasarkan bentuknya. Bentuk hidung manusia biasa dibedakan dengan mancung atau pesek dan besar atau kecil. Namun, nyatanya ada begitu banyak bentuk hidung manusia di dunia ini.

Bentuk hidung manusia memang “tercetak” lantaran kode genetika atau garis keturunan yang diwarisi oleh orang tuanya. Akan tetapi, tahukah Anda jika iklim di mana manusia lahir dan tinggal dapat memengaruhi bentuk hidungnya?

Ya, sebuah studi terbaru mengungkap dan menyatakan bahwa fenomena itu benar-benar terjadi. Studi yang dimaksud dilakukan oleh para mahasiswa di Pennsylvania State University dan kemudian terbit di PLOS Genetics.

Dari studi tersebut ditemukan bahwa perbedaan bentuk hidung manusia dikatakan berkaitan dengan iklim yang dialami oleh nenek moyang kita. Sebenarnya, temuan ini bukanlah sesuatu yang benar-benar baru. Para peneliti tersebut mengakui bahwa hasil temuannya hanya mendukung teori populer dari tahun 1800-an, yang disebut “Aturan Hidung Thompson”.

Namun, yang menjadi titik perbedaan adalah; pada masa lalu, para ilmuwan hanya melakukan pengukuran bentuk tengkorak untuk menguji keakuratan Aturan Hidung, bukan dari hidung itu sendiri.

Sedangkan studi teranyar ini lebih khusus dalam mendalami dan meneliti hubungan iklim dengan dimensi hidung pada orang yang masih hidup.

Bagaimana Iklim dan Kondisi Lingungan Memengaruhi Bentuk Hidung Manusia?

Teori yang disebut “Aturan Hidung Thompson” diperkenalkan oleh antropolog Inggris dan ahli anatomi, Arthur Thompson. Ia menyatakan bahwa lubang hidung yang lebih luas terbentuk di iklim hangat, sedangkan lubang hidung sempit berevolusi untuk beradaptasi dengan kondisi iklim yang lebih dingin.

Hal ini terjadi lantaran berkaitan dengan salah satu fungsi paling penting dari hidung, yakni untuk menyaring udara sebelum mencapai paru-paru. Mengapa bentuk hidung manusia yang mendiami tempat beriklim topis memiliki lubang hidung yang lebih lebar, besar, terbuka dan bentuk hidung cenderung lebih datar? Teori Thompson menyebut bahwa di daerah tropis, udara cenderung panas dan sudah tidak perlu dijernihkan, sehingga seharusnya tidak ada penghalang ke aliran udara.

Sementara di daerah dingin, hidung sempit akan lebih efektif menghangatkan udara. Karena bentuk lubang hidung yang terbuka lebar memungkinkan massa udara dingin membanjiri saluran udara dan mengiritasi lapisan membran.

Penelitian yang dilakukan oleh Mark D. Shriver dan kawan-kawannya ini dilakukan menggunakan pencitraan wajah 3D, tim peneliti kemudian mempelajari tinggi dan panjang hidung, lebar lubang hidung, juga jarak di antaranya. Pengukuran dilakukan pada 476 relawan berasal dari Asia Selatan, Asia Timur, Afrika Barat, dan keturunan Eropa Utara.

Para peneliti mengukur variasi karakteristik seperti penonjolan ujung hidung, lebar dasar bagian berdaging dari lubang hidung yang disebut ala, dan lebar lubang hidung itu sendiri. Kemudian mereka menerapkan uji statistik guna menentukan kemungkinan pergeseran genetik untuk masing-masing karakteristik.

Hasilnya menuju ke hanya dua sifat yang tampaknya telah dibentuk oleh seleksi alam, antara lebar ala, dan lubang hidung. Peneliti juga menemukan bahwa lebar hidung mereka berkorelasi kuat dengan suhu rata-rata dari lokasi dan kelembaban mutlak.

Pada dasarnya, bentuk hidung manusia yang lebih lebar menjadi bentuk yang lebih umum dalam kondisi iklim hangat, dan daerah lembab. Sementara hidung yang lebih sempit menjadi lebih umum di iklim dingin dan kering.

Tidak heran jika mayoritas bentuk hidung manusia di Indonesia dan negara-negara di Semenanjung Malaya lain, cenderung melebar dan berlubang besar. Hal ini sejurus dengan kenyataan bahwa Indonesia dan negara-negara ASEAN lain memang beriklim tropis.

Read More