Mengenal Jenis-Jenis Operasi Jantung Bocor

Ketika seseorang mengalami kondisi jantung bocor, operasi jantung bocor menjadi salah satu metode pengobatan yang cukup sering dilakukan. Operasi ini umumnya berupa perbaikan atau penggantian katup jantung yang tidak berfungsi dengan baik.

Di dalam jantung, terdapat katup yang memungkinkan darah untuk mengalir antarbilik di jantung dan terpompa ke seluruh tubuh. Pada kondisi normal, katup akan membuka dan kembali menutup sepenuhnya setelah darah dialirkan. Katup jantung yang tidak berfungsi dengan semestinya akan menyebabkan penyakit jantung bocor.

Jenis-jenis operasi jantung bocor

Umumnya, ada dua pilihan operasi bagi pasien jantung bocor. Pertama, pasien akan menjalani operasi untuk melakukan perbaikan katup yang mengalami kebocoran sedang. Upaya ini sesuai bagi kondisi kebocoran katup yang tidak parah.

Pilihan kedua adalah operasi penggantian katup jantung. Operasi penggantian dilakukan apabila pasien mengalami kondisi kebocoran katup yang cukup parah. Biasanya, katup yang bermasalah akan digantikan dengan katup baru berupa katup mekanik buatan atau dengan katup jaringan.

Terdapat dua jenis operasi jantung bocor dengan metode penggantian katup:

  • Penggantian katup aorta

Katup aorta merupakan katup yang berada di sisi kiri jantung yang berperan sebagai arus aliran keluar. Katup ini menjadi tempat bagi darah untuk mengalir keluar dari ruang pompa utama pada jantung, yaitu ventrikel kiri.

Operasi penggantian katup aorta dibutuhkan apabila terjadi kecacatan pada katup aorta. Kondisi ini bisa disebabkan oleh berbagai hal, salah satunya adalah cacat bawaan lahir serta kelainan katup jantung yang tidak bisa membuka atau menutup sepenuhnya di tengah proses pengaliran darah ke seluruh tubuh.

Kelainan katup jantung bawaan lahir yang paling sering terjadi adalah saat katup aorta mengalami kerusakan pada salah satu jaringan. Normalnya, katup aorta terdiri atas tiga bagian jaringan dan disebut dengan trikuspid.

Saat salah satu jaringan mengalami kerusakan, hanya tersisa dua jaringan yang masih berfungsi sehingga seringkali disebut juga dengan kondisi katup bikuspid. Kondisi inilah yang perlu diatasi melalui operasi jantung bocor dengan metode penggantian katup jantung.

Selain itu, ada pula kondisi kesehatan lain yang mungkin akan mempengaruhi seseorang mengalami kelainan pada katup aorta, seperti tekanan darah tinggi, rematik, infeksi katup jantung, dan sindrom marfan.

Pada sebagian besar pasien, operasi penggantian katup aorta mampu meningkatkan kelangsungan hidup secara signifikan.

  • Penggantian katup mitral

Sama seperti katup aorta, katup mitral juga terletak di sisi kiri jantung. Bedanya, katup ini berfungsi sebagai arus aliran masuk bagi darah untuk mengalir dari dari atrium kiri ke ventrikel kiri.

Saat katup tidak bisa membuka atau menutup secara maksimal, pasien akan mengalami gejala jantung bocor. Katup yang tidak berhasil membuka sepenuhnya akan mempersempit ruang bagi darah untuk mengalir masuk. Sementara, katup yang tidak bisa menutup dengan benar akan menyebabkan kebocoran darah kembali ke paru-paru.

Ada banyak faktor yang bisa menyebabkan katup mitral mengalami kerusakan. Sama seperti kelainan pada katut aorta, kelainan katup mitral juga bisa disebabkan oleh cacat bawaan lahir.

Melalui operasi jantung bocor, katup mitral akan diganti menggunakan katup buatan yang terbuat dari logam. Setelah katup logam dipasang, pasien harus terus mengonsumsi obat pengencer darah seumur hidup.

Katup buatan berbahan logam bersifat permanen atau akan terus terpasang seumur hidup.

Selain katup buatan, penggantian katup juga bisa dilakukan dengan katup biologis, yaitu dengan menggunakan jaringan tubuh lainnya. Tidak seperti katup logam, katup ini hanya dapat bertahan selama kurang lebih 15-20 tahun.

Operasi jantung bocor biasanya diterapkan pada pasien yang mengalami masalah kebocoran katup jantun yang cukup parah. Meski menjadi cara pengobatan yang paling umum dilakukan, operasi bukanlah satu-satunya upaya untuk mengatasi kondisi jantung bocor. Keputusan tentang pelaksanaan operasi akan ditentukan oleh dokter terkait yang melakukan diagnosa terhadap pasien.

Read More

Mengapa Angiografi Serebral Perlu Dilakukan?

Angiografi serebral merupakan sebuah pemeriksaan diagnostik yang menggunakan bantuan sinar-X. Tindakan medis ini akan menghasilkan angiogram serebral, sebuah gambar yang akan membantu dokter untuk menemukan adanya penyumbatan atau ketidaknormalan lain di pembuluh darah yang ada di kepala dan leher. Penyumbatan atau kondisi tidak normal di kepala dapat menyebabkan stroke dan pendarahan pada otak. Untuk tes jenis ini, dokter akan menyuntikkan bahan pengontras ke dalam darah Anda. Bahan pengontras tersebut akan membantu sinar-X untuk memproduksi gambar pembuluh darah yang jelas yang akan digunakan dokter untuk mengidentifikasi adanya penyumbatan atau ketidaknormalan.

Penggunaan angiografi serebral

Tidak semua orang yang memiliki penyumbatan arteri membutuhkan angiografi serebral. Prosedur ini biasanya dilakukan hanya ketika dokter membutuhkan informasi lebih untuk dapat merencanakan perawatan setelah pemeriksaan dilakukan. Hal ini disebabkan karena angiografi serebral merupakan sebuah prosedur medis yang invasif dan memiliki risikonya sendiri. Angiogram juga dapat digunakan untuk membantu merawat beberapa kondisi kesehatan yang berhubungan dengan pembuluh darah pada leher dan otak. Angiografi serebral dapat membantu dokter untuk mendiagnosa penyakit aneurisma, arteriosklerosis, malformasi asteriovenosa, radang pembuluh darah, tumor otak, gumpalan darah, dan rusaknya lapisan arteri. Selain itu, angiografi serebral juga dapat membantu dokter mengetahui penyebab gejala penyakit tertentu seperti stroke, sakit kepala parah, hilangnya ingatan, pusing, padangan kabur/rabun, tubuh terasa lemas, dan hilangnya koordinasi atau keseimbangan.

Hal yang perlu diketahui sebelum angiografi serebral

Bicarakan dengan dokter tentang bagaimana Anda perlu mempersiapkan diri sebelum mendapatkan prosedur medis ini. Anda mungkin akan disarankan untuk tidak makan atau minum sebelum prosedur dilakukan. Selain itu, dokter juga mungkin akan meminta Anda untuk berhenti mengonsumsi obat-obatan yang dapat meningkatkan risiko pendarahan, seperti obat pengencer darah, aspirin, dan obat-obatan anti peradangan non-steroid. Apabila Anda adalah seorang ibu menyusui, pompalah ASI sebelum prosedur dilakukan dan jangan menyusui bayi setidaknya 24 jam setelah prosedur berhasil dilakukan. Hal ini akan memberikan tubuh Anda cukup waktu untuk mengeluarkan bahan pengontras dari dalam tubuh.

Selain itu, beritahu dokter apabila Anda memiliki alergi atau kondisi medis tertentu. Beberapa orang memiliki alergi terhadap bahan pengontras yang digunakan selama prosedur angiografi serebral. Apabila Anda memiliki alergi apapun, termasuk alergi anestesi atau bahan pengontras yang diberikan pada saat pemeriksaan pencitraan CT. Dokter mungkin akan meresepkan obat-obatan anti-alergi sebelum prosedur dilakukan. Beberapa jenis penyakit dan kondisi medis tertentu juga dapat meningkatkan risiko komplikasi selama prosedur angiografi serebral. Apabila Anda memiliki penyakit diabetes atau penyakit ginjal, bahan pengontras dapat menyebabkan kerusakan ginjal sementara. Selain itu, apabila Anda hamil, atau merasa sedang hamil, bertanyalah pada dokter tentang paparan radiasi yang digunakan selama pemeriksaan.

Hasil angiografi serebral sangat detail, menunjukkan gambar pembuluh darah di otak yang jelas dan akurat. Hal ini tentunya sangat bermanfaat bagi dokter  untuk membuat diagnosa dan rencana perawat terhadap kondisi Anda. Namun bukan berarti tindakan medis ini bebas risiko. Sama seperti prosedur lain, angiografi serebral dapat menyebabkan beberapa komplikasi seperti alergi terhadap bahan pengontras, meningkatnya risiko kanker karena paparan radiasi berlebih, ginjal dapat cidera akibat bahan pengontras (bagi mereka yang memiliki penyakit diabetes dan ginjal) dan adanya risiko darah menggumpal di sekitar ujung kateter yang dapat menyumbat arteri. Namun, manfaat yang didapat angiografi serebral melebihi risiko yang sangat jarang terjadi tersebut.

Read More

Menegakkan Diagnosis dengan Prosedur Tomografi

Kadang untuk memperoleh diagnosis yang tepat, dibutuhkan prosedur medis tertentu. Tomografi merupakan salah satu prosedur medis yang akan disarankan dokter dalam upaya memperoleh diagnosis yang tepat.

Tomografi merupakan prosedur untuk menghasilkan tomogram, yaitu potongan gambar dua dimensi dari bagian objek tiga dimensi. Jenis prosedur tomografi yang paling umum dilakukan adalah tomografi terkomputerisasi atau computerized tomography-scan, di mana tindakan ini lebih dikenal dalam istilah singkatnya, CT-scan.

Tindakan tomografi memanfaatkan teknologi sinar-X yang mengitari tubuh untuk menghasilkan gambaran potong lintang dan akan diproses oleh komputer. Dibanding prosedur sinar-X sederhana, teknologi CT-scan dapat memberikan gambaran informasi yang lebih detil terkait jaringan lunak, pembuluh darah, serta tulang.

Alasan dilakukannya prosedur tomografi

Seperti semua prosedur medis, tomografi tentu dilakukan berdasarkan indikasi medis tertentu. Umumnya tindakan ini dilakukan untuk mendiagnosis penyakit infeksi, gangguan otot, atau patah tulang. Prosedur ini juga dilakukan untuk mengetahui kondisi organ dalam. Dokter biasa menyarankan prosedur tomografi untuk memeriksa pembuluh darah dan struktur organ dalam lainnya. Deteksi adanya cedera organ dalam atau adanya perdarahan internal juga dapat dilakukan dengan tomografi.

Prosedur ini juga dilakukan untuk menegakkan diagnosis kanker. Dengan tomografi, letak atau massa tumor dapat diketahui. Kadang tindakan ini juga dilakukan untuk memonitor efektivitas terapi pada penyakit kanker atau penyakit jantung. Tomografi juga dapat dilakukan untuk memandu prosedur diagnosis lain, seperti biopsi atau tindakan pembedahan.

Prosedur CT-scan atau tomografi

Pelaksanaan tindakan tomografi atau CT-scan membutuhkan ruangan khusus. Di ruangan tersebut, Anda akan diminta berbaring di meja mesin tomografi. Sementara dokter akan berada di ruangan kontrol. Meski berada di ruang kontrol, dokter tetap dapat melihat dan berkomunikasi dengan Anda dari ruang tersebut, sebab tersedia alat komunikasi khusus di sana.

Bila sudah siap, dokter yang dibantu petugas khusus akan menjalankan mesin tomografi atau CT-scan. Ketika mesin dinyalakan, sinar X-Ray akan berputar mengitari tubuh Anda. Prosedur akan berlangsung antara 20-60 menit, tergantung bagian tubuh yang diperiksa.

Selama mesin beroperasi, Anda akan mendengar suara mesin dan merasakan meja mesin bergerak beberapa milimeter. Beberapa pasien menjadi panik karenanya. Namun, penting sekali untuk tetap tenang sebab gerakan Anda akan memengaruhi hasil pemeriksaan. Oleh sebab itu, pasien anak biasanya diberikan obat penenang oleh dokter, tujuannya untuk meminimalisasi gerakan selama proses tomografi berlangsung.

Gambaran hasil pemeriksaan tomografi akan dievaluasi oleh dokter radiologi. Selama proses evaluasi, dokter radiologi akan membaca abnormalitas pada tubuh pasien, seperti adanya tumor, bekuan darah, patah tulang, maupun kondisi lainnya.

Dokter radiologi akan mendiskusikan hasil CT-scan tersebut dengan dokter yang merawat Anda. Jika memang ditemukan kondisi tubuh tidak normal dari hasil pemeriksaan tomografi, maka dokter radiologi mungkin saja merekomendasikan pemeriksaan lain untuk menunjang tegaknya diagnosis. Tidak menutup kemungkinan juga hasil pemeriksaan tersebut sudah cukup menjadi dasar bagi dokter untuk menentukan terapi yang tepat.

Kadang dibutuhkan zat kontras untuk melaksanakan CT-scan. Nah, bagi Anda yang menjalani CT-scan atau tomografi dengan menggunakan zat kontras, setelah prosedur selesai sebaiknya Anda minum banyak air putih. Tujuannya, untuk membantu ginjal membersihkan sisa zat kontras dari dalam tubuh.

Secara umum, prosedur tomografi sangat aman dilakukan. Akan tetapi, tetap ada beberapa risiko yang mungkin timbul dari prosedur medis ini. Sebagai contoh, Anda berisiko menerima paparan radiasi yang lebih besar dibanding foto sinar-X. Bila prosedur CT-scan dijalani beberapa kali, risiko mengalami penyakit kanker meningkat. Kemudian, beberapa orang juga mungkin memiliki alergi terhadap zat kontras.

Maka, penting sekali untuk berdiskusi dengan dokter yang merawat Anda sebelum menjalani prosedur tomografi.

Read More