Sering Menangis Tanpa Sebab? Hati-hati Gejala Depresi

Meskipun setiap orang pastinya pernah merasa sedih dari waktu ke waktu, depresi mayor merupakan sebuah kondisi yang berbeda. Gangguan depresi mayor atau depresi klinis membuat Anda merasakan rasa sedih, kesepian, dan hilangnya ketertarikan akan hal-hal yang dulu Anda sukai, serta sering menangis tanpa sebab. Saat perasaan tersebut terjadi selama lebih dari dua minggu, dokter akan mendiagnosa kasus Anda sebagai gangguan depresi mayor. Gejala-gejala tersebut merupakan tanda bahwa Anda membutuhkan bantuan profesional. Bicaralah dengan dokter apabila Anda memiliki gejala yang dapat mengindikasi adanya depresi.

Gejala umum depresi

Gejala yang ditimbulkan depresi dapat berbeda-beda tergantung setiap individu. Namun, bagi kebanyakan orang, depresi dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, berinteraksi dengan orang lain, atau pergi ke sekolah atau kantor. Bahkan tidak jarang orang dengan gangguan depresi menangis tanpa sebab. Apabila Anda menderita depresi, Anda mungkin akan mengalami hal-hal berikut ini.

  • Sedih

Gejala paling umum dari depresi adalah rasa sedih atau kekosongan yang akan bertahan selama lebih dari dua minggu. Seseorang mungkin akan menganggap gejala ini sebagai rasa putus asa. Mereka mungkin akan merasa bahwa hidup tidak akan menjadi bertambah baik, dan kadar kesedihan yang intens ini akan bertahan selamanya. Gejala ini merupakan jenis depresi kronis di mana mood seseorang terus menerus buruk.

  • Perasaan tidak berharga

Orang-orang yang depresi sering merasa dirinya sendiri tidak berharga, penuh rasa salah, dan tidak berharga. Orang-orang ini sering berfokus pada kegagalan di masa lalu atau kekurangan pribadi. Mereka sering menyalahkan diri mereka sendiri saat hidup mereka tidak berjalan sebagaimana mestinya. Remaja yang menderita depresi merasa diri mereka tidak berguna, merasa salah dimengerti dan mulai menghindari interaksi dengan orang lain.

  • Sifat mudah marah

Depresi dapat menyebabkan orang-orang menjadi mudah frustasi atau marah, bahhkan meskipun disebabkan oleh hal-hal kecil yang sepele. Baik pria ataupun wanita dapat menunjukkan gejala mudah marah. Namun, gejala tersebut biasanya berbeda. Wanita melaporkan diri mereka mudah marah pada suatu waktu, kemudian menangis tanpa sebab berikutnya. Sementara itu, pria lebih bersifat agresif dan kasar akibat depresi.

  • Kelelahan

Orang-orang dengan depresi sering merasa kurang energi atau merasa lelah setiap saat. Tugas-tugas kecil, seperti mandi atau bangun dari tempat tidur, terlihat membutuhkan banyak usaha. Kelelahan dapat memerankan peran lain pada gejala yang berhubungan dengan depresi, misalnya menarik diri dari lingkungan sosial dan rasa apati. Apabila Anda memiliki depresi, Anda akan merasa kewalahan hanya dengan berpikir perlu pergi keluar.

  • Rasa bersalah

Depresi sering disebabkan karena reaksi kimia tidak seimbang di otak. Namun, orang-orang dengan depresi lebih sering menyalahkan diri sendiri, alih-alih menyalahkan penyabab tersebut.

  • Menangis tanpa sebab

Orang-orang dengan depresi sering menangis tanpa sebab. Menangis tanpa sebab juga sering ditemukan pada depresi post-partum, yang mana merupakan depresi yang terjadi setelah seorang wanita melahirkan bayinya.

  • Apatis

Orang-orang dengan depresi biasanya akan kehilangan ketertarikan dan berhenti mendapat kebahagiaan dari aktivitas yang dulunya mereka suka, seperti hobi dan hubungan seksual.

Saat Anda memiliki deprisi, merawat gejala seperti menangis tanpa sebab, bertindak apatis, sifat mudah marah dan lain-lain bukan suatu hal yang bisa Anda lakukan seorang diri. Merawat gangguan depresi membutuhkan bantuan dari kombinasi antara psychotherapy dan minum obat-obatan tertentu. Apabila Anda memiliki depresi, konsultasi dengan tenaga medis ahli kesehatan mental.

Read More

Gangguan di Perut Jadi Tanda Anak Alami Lactose Intolerant

Apakah anak Anda tidak bisa menerima susu dan produk olahannya? Jika ya, belum tentu ia mengalami alergi susu. Namun, mungkin saja buah hati Anda mengalami lactose intolerant, lho.

Secara sederhana lactose intolerant atau dalam bahasa Indonesia dipadankan dengan intoleransi laktosa adalah satu kondisi di mana seseorang tidak mampu mencerna laktosa. Laktosa sendiri merupakan bentuk disakarida dari karbohidrat yang dapat dipecah menjadi bentuk lebih sederhana yaitu galaktosa dan glukosa. Laktosa ada di dalam kandungan susu, dan merupakan 2-8 persen bobot susu keseluruhan.

Kondisi ini terjadi karena pengidap intoleransi laktosa tidak memiliki cukup laktase dalam sistem pencernaannya. Akibatnya, mereka rentan terhadap susu dan produk turunannya. Laktase merupakan enzim yang digunakan oleh tubuh untuk memecah dan menyerap laktosa.

Lactose intolerant dapat terjadi pada segala jenis usia. Banyak faktor yang mempengaruhi seseorang kekurangan enzim laktase di dalam tubuhnya, tetapi utamanya disebabkan oleh gangguan kesehatan di saluran cerna.

Kondisi ini amat mengkhawatirkan jika terjadi pada bayi, utamanya mereka yang berusia di bawah tiga tahun. Sebab, anak usia batita masih amat bergantung pada susu untuk memenuhi kebutuhannya. Di bawah ini ada beberapa gejala yang bisa menandakan anak mengalami lactose intolerant, di antaranya:

  • Diare

Intoleransi laktosa menyebabkan diare dengan meningkatkan volume air di usus besar. Hal ini menyebabkan meningkatnya volume dan kandungan cairan tinja. Ini lebih sering terjadi pada bayi dan anak-anak daripada pada orang dewasa.

Di usus besar, fermentasi mikroflora laktosa menjadi asam lemak dan gas rantai pendek. Sebagian besar asam-asam ini diserap kembali ke usus besar. Asam sisa dan laktosa meningkatkan jumlah air yang dikeluarkan tubuh ke usus besar.

Diare ditandai dengan intensitas buang air besar yang sering dengan tekstur tinja yang encer ini sebenarnya respons alami tubuh dalam melawan kuman yang membahayakan saluran cerna.

  • Sembelit

Sembelit ditandai dengan tinja yang keras dan jarang, buang air besar yang tidak sempurna, perut tidak nyaman, kembung, dan mengejan yang berlebihan. Kondisi ini bisa menjadi indikasi lain dari lactose intolerant, meski gejala ini lebih jarang terjadi dibandingkan diare.

Karena bakteri dalam fermentasi usus besar tidak dapat mencerna laktosa, bakteri ini menghasilkan gas metana. Metana dianggap memperlambat waktu yang dibutuhkan makanan untuk bergerak melalui usus. Hal ini menyebabkan terjadinya sembelit pada bayi.

  • Kembung dan Gangguan di Perut

Nyeri perut dan kembung adalah gejala umum dari lactose intoleran pada segala jenis umur. Ketika tubuh tidak dapat memecah laktosa, laktosa melewati usus sampai mencapai usus besar. Laktosa tidak dapat diserap oleh sel-sel yang melapisi usus besar, tetapi dapat difermentasi dan dipecah oleh bakteri alami yang hidup di usus besar. Fermentasi ini menyebabkan pelepasan asam lemak rantai pendek serta gas hidrogen, metana, dan karbondioksida.

Peningkatan asam dan gas menyebabkan sakit perut. Rasa sakit biasanya terletak di sekitar pusar dan di bagian bawah perut. Sensasi kembung disebabkan oleh peningkatan air dan gas di usus besar yang menyebabkan dinding usus meregang (distensi).

Frekuensi kembung dan sakit perut tidak berhubungan dengan banyaknya laktosa yang dicerna tetapi pada kepekaan bayi terhadap dinding usus yang meregang.

  • Gejala-Gejala Lain

Gejala utama intoleransi laktosa yang dikenali adalah gastrointestinal (berhubungan dengan lambung dan usus) namun studi kasus menunjukkan gejala-gejala lain seperti:

  • Sakit kepala;
  • Kelelahan;
  • Kehilangan konsentrasi;
  • Nyeri otot dan sendi;
  • Bisul di mulut;
  • Masalah buang air kecil;
  • Eksim.

Namun gejala-gejala ini belum ditetapkan sebagai gejala lactose intolerant yang sebenarnya dan mungkin memiliki penyebab lain.

Efek samping dari konsumsi laktosa bagi pengidap intoleransi laktosa biasanya cukup cepat. Hanya dalam waktu 30 menit sampai 2 jam, efek samping langsung terasa.Yang jelas terlihat adalah bayi menjadi lebih rewel dan tidak nyaman setelah mengonsumsi susu dan produk turunannya.

***

Itulah beberapa kondisi kesehatan yang bisa meningkatkan kewaspadaan Anda, sebagai orang tua, akan lactose intolerant pada anak Anda. Bila gejala-gejala di atas selalu muncul setelah pemberian susu, kemungkinan anak mengalami lactose intolerant amat besar. Segera temui dokter agar mendapat penjelasan yang akurat mengenai kondisi anak Anda.

Read More

Ketahui Gejala Cacat Mental pada Anak Sedari Dini

Kondisi cacat mental akan semakin parah jika tidak atau terlambat ditangani. Karena itu, menjadi penting untuk cepet mendeteksi ada tidaknya gejala cacat mental pada anak. Gejala cacat mental sendiri biasanya tidak muncul sekaligus, namun muncul perlahan hingga terpastikan pada saat usia seseorang mencapai 18 tahun.

Meskipun muncul perlahan, sebenarnya banyak gejala pasti terkait cacat mental yang bisa Anda indentifikasikan sedari seseorang masih kecil. Dengan mengetahui gejala-gejala tersebut, langkah tepat pengananan pun bisa Anda putuskan. Penanganan yang tepat pada akhirnya mampu menahan bahkan memperbaiki gejala cacat mental yang dialami oleh anak.

Berikut ini adalah beberapa gejala cacat mental yang sudah bisa dilihat dari anak masih berusia dini. Coba cek apakah tanda-tanda tersebut ada pada anak Anda? Jika Anda, segera lakukan penanganan yang tepat, yuk!

Lamban memahami bahasa

Salah satu kecenderungan cacat mental adalah tidak mampunya seseorang memahami bahasa. Ketidakmampuan tersebut biasanya mulai ditunjukkan dari kecil dengan gejala terlambat berbicara. Hanya saja yang perlu dipahami, tidak semua kondisi terlambat berbicara pada anak menandakan ia mengalami cacat mental.

Banyak juga anak yang terlambat berbicara, namun bisa dengan cepat memahami bahasa setelah diberi perawatan. Namun, kondisi terlambat berbicara bisa Anda jadikan kecurigaan terhadap gejala cacat mental. Anda pun bisa segera memeriksakan anak tersebut ke dokter yang lebih ahli.

Menarik diri dari pergaulan

Gejala cacat mental lainnya yang bisa diperhatikan lainnya adalah kemampuan anak sedari kecil dalam beradaptasi dengan lingkungan. Umumnya, anak kecil mampu berinteraksi dengan lingkungan lebih cepat daripada orang dewasa. Namun pada anak yang memiliki gejala cacat mental, interaksi tersebut menjadi lebih sulit.

Anak dengan gejala cacat mental cenderung menarik diri dari pergaulan. Mereka tergolong penyendiri karena dan memiliki dunianya sendiri. Jika Anda menemukan gejala demikian, alangkah baiknya Anda mengkonsultasikan kondisi anak tersebut kepada dokter terkait.

Memiliki kecenderungan sifat yang meledak

Cacat mental cenderung membuat kondisi emosional seseorang menjadi tidak stabil. Kestidakstabilan emosi tersebut sebenarnya sudah diperlihatkan dari kecil, namun kerap luput dari pengawasan orang tua.

Ketidakstabilan emosi pada anak membuat ia tidak mampu mengendalikan emosinya. Ketika sedang marah, ia akan mengamuk habis-habisan. Ketika sedan senang, ia bisa bertingkat menjadi amat baik. Perubahan sikap tersebut pun bisa berubah sangat cepat dan meledak-ledak. Jika ada gejala demikian, cobalah langsung berkonsultasi ke dokter.

Terlambat menguasai keterampilan umum

Seorang anak pada usia balita seharusnya sudah bisa menguasai keterampilan umum untuk anak seusianya. Keterampilan umum yang dimaksud, seperti makan sendiri, ke toilet, sampai memakai baju sendiri.

Namun, ada juga anak-anak yang sangat terlambat menguasai keterampilan-keterampilan umum yang demikian bahkan ketika usianya sudah melewati 5 tahun. Jika mendapati gejala tersebut, pasanglah kecurigaan terhadap kondisi mental anak. Mencoba berobat ke dokter untuk memastikan kondisi anak pun sangat dianjurkan.

Minim minat terhadap hal baru

Anak yang memiliki potensi cacat mental cenderung tidak peduli dengan kondisi sekitarnya. Hal ini juga membuat ia tidak mudah tertarik dengan berbagai macam hal baru. Ini berkebalikan dengan sifat anak kecil yang umumnya memiliki tingkat rasa ingin tahu yang besar.

Jika Anda menenemukan gejala minimnya minat terhadap hal baru yang dialami oleh anak, berhati-hatilah. Mungkin saja itu adalah gejala dari kecacatan mental yang diidap oleh anak tersebut.

***

Dengan mengetahui gejala cacat mental sedari diri, Anda bisa melakukan langkah tepat untuk bisa mengurangi dampaknya. Berbagai perawatan dan rehabilitasi yang pas juga bisa dilakukan. Sebaliknya jika Anda mengabaikan gejala-gejala tersebut, tingkat risiko keparahan cacat mental anak bisa semakin meningkat.

Read More

Mengapa Angiografi Serebral Perlu Dilakukan?

Angiografi serebral merupakan sebuah pemeriksaan diagnostik yang menggunakan bantuan sinar-X. Tindakan medis ini akan menghasilkan angiogram serebral, sebuah gambar yang akan membantu dokter untuk menemukan adanya penyumbatan atau ketidaknormalan lain di pembuluh darah yang ada di kepala dan leher. Penyumbatan atau kondisi tidak normal di kepala dapat menyebabkan stroke dan pendarahan pada otak. Untuk tes jenis ini, dokter akan menyuntikkan bahan pengontras ke dalam darah Anda. Bahan pengontras tersebut akan membantu sinar-X untuk memproduksi gambar pembuluh darah yang jelas yang akan digunakan dokter untuk mengidentifikasi adanya penyumbatan atau ketidaknormalan.

Penggunaan angiografi serebral

Tidak semua orang yang memiliki penyumbatan arteri membutuhkan angiografi serebral. Prosedur ini biasanya dilakukan hanya ketika dokter membutuhkan informasi lebih untuk dapat merencanakan perawatan setelah pemeriksaan dilakukan. Hal ini disebabkan karena angiografi serebral merupakan sebuah prosedur medis yang invasif dan memiliki risikonya sendiri. Angiogram juga dapat digunakan untuk membantu merawat beberapa kondisi kesehatan yang berhubungan dengan pembuluh darah pada leher dan otak. Angiografi serebral dapat membantu dokter untuk mendiagnosa penyakit aneurisma, arteriosklerosis, malformasi asteriovenosa, radang pembuluh darah, tumor otak, gumpalan darah, dan rusaknya lapisan arteri. Selain itu, angiografi serebral juga dapat membantu dokter mengetahui penyebab gejala penyakit tertentu seperti stroke, sakit kepala parah, hilangnya ingatan, pusing, padangan kabur/rabun, tubuh terasa lemas, dan hilangnya koordinasi atau keseimbangan.

Hal yang perlu diketahui sebelum angiografi serebral

Bicarakan dengan dokter tentang bagaimana Anda perlu mempersiapkan diri sebelum mendapatkan prosedur medis ini. Anda mungkin akan disarankan untuk tidak makan atau minum sebelum prosedur dilakukan. Selain itu, dokter juga mungkin akan meminta Anda untuk berhenti mengonsumsi obat-obatan yang dapat meningkatkan risiko pendarahan, seperti obat pengencer darah, aspirin, dan obat-obatan anti peradangan non-steroid. Apabila Anda adalah seorang ibu menyusui, pompalah ASI sebelum prosedur dilakukan dan jangan menyusui bayi setidaknya 24 jam setelah prosedur berhasil dilakukan. Hal ini akan memberikan tubuh Anda cukup waktu untuk mengeluarkan bahan pengontras dari dalam tubuh.

Selain itu, beritahu dokter apabila Anda memiliki alergi atau kondisi medis tertentu. Beberapa orang memiliki alergi terhadap bahan pengontras yang digunakan selama prosedur angiografi serebral. Apabila Anda memiliki alergi apapun, termasuk alergi anestesi atau bahan pengontras yang diberikan pada saat pemeriksaan pencitraan CT. Dokter mungkin akan meresepkan obat-obatan anti-alergi sebelum prosedur dilakukan. Beberapa jenis penyakit dan kondisi medis tertentu juga dapat meningkatkan risiko komplikasi selama prosedur angiografi serebral. Apabila Anda memiliki penyakit diabetes atau penyakit ginjal, bahan pengontras dapat menyebabkan kerusakan ginjal sementara. Selain itu, apabila Anda hamil, atau merasa sedang hamil, bertanyalah pada dokter tentang paparan radiasi yang digunakan selama pemeriksaan.

Hasil angiografi serebral sangat detail, menunjukkan gambar pembuluh darah di otak yang jelas dan akurat. Hal ini tentunya sangat bermanfaat bagi dokter  untuk membuat diagnosa dan rencana perawat terhadap kondisi Anda. Namun bukan berarti tindakan medis ini bebas risiko. Sama seperti prosedur lain, angiografi serebral dapat menyebabkan beberapa komplikasi seperti alergi terhadap bahan pengontras, meningkatnya risiko kanker karena paparan radiasi berlebih, ginjal dapat cidera akibat bahan pengontras (bagi mereka yang memiliki penyakit diabetes dan ginjal) dan adanya risiko darah menggumpal di sekitar ujung kateter yang dapat menyumbat arteri. Namun, manfaat yang didapat angiografi serebral melebihi risiko yang sangat jarang terjadi tersebut.

Read More